KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro Ingatkan Presiden Prabowo soal Kedekatan dengan Habib Ba’alwi
Dalam keterangannya, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro menyoroti berbagai persoalan nasional, mulai dari pengelolaan zakat, kondisi umat Islam, hingga dinamika hubungan pemerintah dengan tokoh-tokoh agama tertentu. Ia juga mengaitkan perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dengan pengaruh media massa terhadap masyarakat.
“Sekarang ada serangan AI, artificial intelligence, nantinya akan ada super artificial intelligence. Jadi terus akan berkembang. Ini cara kerja Dajjal berdasarkan algoritma media massa akhirnya akan mengendalikan pikiran massa,” ujarnya.
Efektivitas Distribusi Zakat Baznas, LazisNU, dan Lazismu
Selain membahas perkembangan teknologi, ia juga menyinggung lembaga pengelola zakat di Indonesia. Menurutnya, potensi zakat di Indonesia sangat besar dan seharusnya mampu membantu mengurangi angka kemiskinan umat Islam.
Ia menyebut sejumlah lembaga seperti Baznas, LazisNU, dan Lazismu sebagai lembaga resmi pengelola zakat yang memiliki peran penting dalam distribusi dana umat. Namun, ia mempertanyakan efektivitas distribusi zakat tersebut.
“Harusnya itu tidak ada orang miskin umat Islam di Indonesia ini,” katanya.
Dalam penjelasannya, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro juga menyinggung pentingnya amanah dalam pengelolaan dana umat. Ia mengibaratkan mencari orang amanah sebagai sesuatu yang sangat langka.
KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro Bersimpati kepada Presiden Prabowo
Di sisi lain, pembahasan kemudian mengarah kepada hubungan pemerintah dengan sejumlah tokoh habib Ba’alwi. Ia menyinggung kegiatan buka puasa bersama di Istana yang dihadiri beberapa tokoh habib dan menjadi sorotan publik.
Menurutnya, tokoh agama seharusnya menjaga jarak dari kepentingan politik praktis dan tidak menjadikan kedekatan dengan penguasa sebagai alat pencitraan.
“Tokoh agama itu seperti guru saya dulu, tidak mau dipaksa untuk kepentingan tertentu,” ujarnya.
KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro juga menyebut bahwa dirinya masih menaruh simpati kepada Presiden Prabowo Subianto. Namun, ia meminta agar kedekatan dengan kelompok tertentu tidak menimbulkan persepsi negatif di tengah masyarakat.
“Saya masih simpati kepada beliau. Semoga ini merupakan taktik beliau untuk menyadarkan. Tetapi jangan begini caranya,” katanya.
Dalam siaran tersebut, ia beberapa kali meminta adanya klarifikasi terkait tujuan pendekatan sejumlah pejabat negara dengan kalangan habib Ba’alwi dan tokoh Petamburan. Menurutnya, masyarakat membutuhkan penjelasan agar tidak terjadi kesalahpahaman.
“Kita semua menunggu klarifikasi dari beliau-beliau ini. Tujuannya apa mendekati Petamburan itu?” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar pemerintah berhati-hati dalam menjalin kedekatan dengan tokoh tertentu yang dinilai dapat memengaruhi stabilitas sosial dan politik.
“Jangan terlalu dekat dengan Ba’alwi. Itu akan mengelabui dan mengibuli,” kata KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro.
Persoalan Nasab Ba’alwi
Dalam kesempatan itu, ia turut menyinggung persoalan nasab Ba’alwi yang selama ini menjadi polemik di masyarakat. Ia mengajak agar persoalan tersebut dibahas secara terbuka dan ilmiah.
“Kita sudah menawarkan duduk bersama untuk membahas asal-usul marga-marga itu secara ilmiah,” ujarnya.
Selain itu, ia mengingatkan bahwa bangsa Indonesia harus tetap menjaga persatuan dan tidak mudah terpecah oleh konflik internal. Menurutnya, ancaman terhadap bangsa dapat muncul apabila masyarakat kehilangan kewaspadaan.
“Kalau kita bertengkar dan terpecah belah, lima jam saja diserang Israel, lumpuh kita,” katanya.
Ia juga menyampaikan bahwa seluruh warga negara memiliki kewajiban untuk menjaga bangsa dan negara sebagaimana amanat Undang-Undang Dasar 1945. Dalam analoginya, ia menggambarkan Indonesia sebagai satu tubuh yang harus dijaga bersama.
“Kalau ada yang sakit semuanya ikut merasakan sakitnya,” ujarnya.
Menyoroti Kondisi Geopolitik Internasional
KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro juga menyoroti kondisi geopolitik internasional, termasuk konflik di Timur Tengah. Ia menyebut pentingnya Indonesia tetap berhati-hati dalam menentukan sikap politik luar negeri.
Ia mengatakan bahwa Indonesia harus tetap mengutamakan kepentingan nasional dan menjaga persatuan bangsa di tengah berbagai pengaruh global.
Dalam pembahasan lainnya, ia juga menyinggung soal pentingnya pendidikan, pemahaman agama, dan perkembangan ilmu pengetahuan. Ia mengangkat tokoh ilmuwan Muslim seperti Al-Biruni dan Abbas bin Firnas sebagai contoh kejayaan peradaban Islam di masa lalu.
Menurutnya, umat Islam perlu kembali membangun tradisi keilmuan dan riset agar mampu bersaing di era modern.
Kondisi Ekonomi Nasional
Selain membahas politik dan agama, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro juga menyinggung kondisi ekonomi nasional. Ia menilai Indonesia memiliki sumber daya alam yang sangat besar dan seharusnya mampu menciptakan kesejahteraan bagi rakyat.
“Indonesia itu cukup untuk hidup satu miliar orang kalau tidak dikorupsi,” katanya.
Ia juga berharap pemerintah dapat menjalankan amanah rakyat dengan baik dan menjaga kepercayaan masyarakat.
Khusnudzon kepada Presiden Prabowo dan Wakil Presiden
Dalam bagian akhir keterangannya, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro kembali menegaskan bahwa dirinya tetap berprasangka baik atau husnudzon kepada Presiden Prabowo dan Wakil Presiden. Namun, ia meminta agar pemerintah memberikan penjelasan terkait berbagai pertemuan dan kedekatan dengan kelompok habib Ba’alwi yang menjadi perhatian publik.
“Saya tetap husnudzon kepada kepala dan wakil negara kita. Tapi harus ada klarifikasi apa tujuannya,” ujarnya.
Ia juga meminta agar para pejabat negara tidak terlalu dekat dengan kelompok yang menurutnya dapat menimbulkan polemik di tengah masyarakat.
“Para pejabat mesra dengan mereka ini menyakitkan. Perlu ada klarifikasi penjelasan maksudnya apa,” katanya.
Menutup pernyataannya, KRT KH Nur Ihyak Hadinegoro mengajak masyarakat tetap menjaga persatuan bangsa dan negara di tengah berbagai dinamika yang berkembang.
“Sebagai bangsa satu tubuh, kita harus menjaga negara ini bersama-sama,” ujarnya.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian publik karena memuat berbagai isu mulai dari hubungan agama dan negara, polemik nasab Ba’alwi, hingga harapan terhadap pemerintahan Presiden Prabowo Subianto ke depan. (Qodrat Arispati)
Tonton videonya di YouTube:


